5 Taktik Jitu Bagi Praktisi SDM, Mengubah Pembelajaran Dari  Kelas Tradisonal Menuju E-Learning

5 Taktik Jitu Bagi Praktisi SDM, Mengubah Pembelajaran Dari Kelas Tradisonal Menuju E-Learning

Di artikel sebelumnya telah disampaikan bahwa salah satu kelebihan dari metode pembelajaran online adalah manfaat e-Learning dalam organisasi lainnya adalah seluruh karyawan mendapat kesempatan yang sama untuk membangun sikap proaktif dalam pengembangan kompetensi diri. Selain itu, tercipta efisiensi waktu dan biaya secara signifikan. Tentunya juga aspek financial dimana dengan metode pembelajaran online, akan nada banyak elemen pembiayaan yang terpagkas. Sebut saja biaya akomodasi selama mengikuti pelatihan, yang ternyata seringkali lebih mahal dari biaya pelatihan itu sendiri. (Baca http://www.e-manajemen.com/maju-dan- berkembangnya-perusahaan- di-indonesia- yang-menerapkan- e-learning/)

 

Demi melihat banyaknya keuntungan yang dapat diraih dengan menggunakan metode pelatihan online, maka banyak organisasi khususnya praktisi HR (Human Resources) bidang People Development yang berharap dapat megubah program pelatihan yang mereka kerap laksanakan menjadi pelatihan online. Namun percayalah prosesnya walaupun tidak sulit namun juga tidak terlalu mudah untuk dilaksanakan. Misalnya apakah buku atau materi cetak atau bahkan bahan power point yang selama ini disampaikan dalam kelas dapat serta merta dikonversi menjadi bahan ajar pembelaran secara online? Tentu tidak. Meng-konversi bahan ajar menjadi materi dalam bentuk digital adalah hanya satu tahap awal yang mungkin langkah paling mudah untuk dilakukan. Menurut Christopher Pappas, seorang ahli metode e-learning dan juga Founder dari The eLearning Industry, setidaknya ada lima (5) langkah yang harus dilakukan untuk meng-konversi pelatihan tradisional menjadi pelatihan online.

 

Seperti disimak dari elearningindustry.com Papas menyampaikan lima langkah tersebut, yakni:

1. Mengidentifikasi Format kelas e-learning

5 Taktik Jitu Bagi Praktisi SDM 02

Pada tahap ini provider atau organisasi pembelajar memilah dan mengklasifikasikan kelas pembelajaran apakah akan dikemas dalam format synchronous atau asynchronous.

 

a. Synchronous

Jika kelas di-format dalam bentuk Synchronous maka pertemuan antara pembelajar dengan sang Tutor dilakukan secara live, kanal yang dapat dipilih adalah; live conference, chat, broadcasting dan private message.

 

Setelah waktu disepakati, maka pembelajar dan Tutor dapat saling berinteraksi dengan bantuan jaringan internet. Perlu dicatat, kewenangan memilih siapa yang akan berada dalam kelas online ini sepenuhnya berada di tangan sang Tutor. Ada platform yang berbayar ada juga yang gratis. Artinya sang pembelajar harus berinvestasi dalam jumlah tertentu untuk dapat ikut berinteraksi dan berdiskusi dengan sang Tutor. Dalam platform ini, tutor dan peserta didik menyepakati waktu yang akan digunakan, sehingga bisa secara real time bertemu dalam perantara jaringan internet. Beberapa kanal yang dapat digunakan adalah; Skype, ClickMeeting, Big Blue Button, atau Google HangOut.

 

b. A-synchronous

Dalam format A-synchronous pertemuan antara pembelajar dengan Tutor dilakukan secara tidak real time, sehingga kanal yang dapat digunakan adalah Chat Forum, Gambar, video, sound, e-mail dan teks yang dikirim via online, dan dapat dibuka sewaktu pembelajar memerlukan materi tersebut. Dengan kata lain pengelolaan waktu belajar sangat ditentukan oleh kemauan sang Pembelajar. Dalam metode ini, manfaat dari sisi pembelajar adalah waktu yang lebih banyak untuk mengklarifikasi suatu materi yang telah diberikan karena terjadinya delay (jeda waktu) antara penyediaan media dengan pembelajaran, sehingga peserta didik dapat mengkaji lebih dalam terkait dengan pertanyaan yang akan diajukan. Salah satu kelemahan yang ditemukan pada mode ini adalah jika adanya pertanyaan atau topik diskusi yang membutuhkan klarifikasi atau jawaban dari tutor maka membutuhkan waktu yang sangat beragam, tergantung dari kesediaan tutornya. Walaupun begitu, tentu saja sumber belajar tidak hanya berasal dari tutor semata, namun bisa juga didapatkan dari rekan kelas online.”

 

c. Metode Blended Learning

Kombinasi antara Online dan Kelas Tradisional Dalam format ini kelas dilakukan secara online dan juga tatap muka langsung antara mentor dengan pembelajar. Komposisi antara e-learning dengan tatap muka sangat beragam, ada yang menerapkan 50-50 namun ada juga yang lebih menitikberatkan pada aspek tatap muka. Ilustrasi di bawah ini dapat memperlihatkan perbedaan antara kelas tradisional, pembelajaran e-learning dan campuran antara keduanya.

5 Taktik Jitu Bagi Praktisi SDM 03

2. Pemilihan Model Desain Instruksional

Merujuk kerangka pikir dari Marina Arshavskiy (2013), Model Desain Instruksional pada e-learning sendiri paling tidak terdiri dari 7 tipe yakni;

  1. ADDIE Model
  2. Seels and Glasgow ISD Model
  3. Dick and Carrey Systems Approach Model
  4. ASSURE Model
  5. Rapid ISD Model
  6. Four-Door (4 D) eLearning Model
  7. SAM Model

Dari ketujuh model di atas, ADDIE dan ASSURE lebih banyak diimplementasikan dalam pengembangan sistem e-learning. ADDIE Model kepanjangan dari Analyze (analisis), Design (desain), Develop (membangun), Implement (menerapkan), dan Evaluate (evaluasi). Model ini cukup umum dikenal sebagai model yang fleksibel yang sering dipakai untuk pengembangan sistem. Disiapkan untuk membantu proses lasngkah demi langkah yang membantu pengembang sistem untuk membuat program yang sesuai dengan framework.

Sementara ASSURE Model yang dikembangkan oleh Heinich, Molenda, Russell dan Smaldino.Model ini mengasumsikan bahwa desain kelas menggunakan berbagai tipe media dan secarakhusus sangat bermanfaat untuk desain kelas e-learning.ASSURE kepanjangan dari:

  • A – Analyze Learner (Menganalisis Pembelajar)
  • S – State Objectives (Menentukan Tujuan Pembelajaran)
  • S – Select Media and Materials (Memilih media dan materi)
  • U – Utilize Media and Materials (Menggunakan media dan materi)
  • R – Require Learner Participation (Membutuhkan partisipasi pembelajar)
  • E – Evaluate and Revise (Evaluasi dan revisi)
5 Taktik Jitu Bagi Praktisi SDM 04
5 Taktik Jitu Bagi Praktisi SDM 05

Kemudian untuk membandingkan diantara 2 model tersebut, silakan disimak melalui tabel berikut

5 Taktik Jitu Bagi Praktisi SDM 06

Pada Assure terlihat bahwa evaluasi dilakukan pada akhir fase, sedangkan pada Addie evaluasi dilakukan pada masing-masing tahapan. Untuk pemilihan modelnya silakan bisa memilih diantara Assure atau Addie, atau bisa juga dilaukan kolaborasi diantara keduanya.

 

3. Perhatikan Proses Interaksi yang Terjadi

Menurut Moore (1989), salah satu pioner dan pakar dalam pembelajaran jarak jauh, serta editor American Journal of Distance Education dalam pembelajaran jarak jauh, setidaknya akan terjadi tiga interaksi; yakni interkasi antara pembelajar dengan materi ajar, yang sangat dipengaruhi oleh kreativitas, inovasi dan interaktivitas materi ajar. Kedua adalah interaksi antara pembelajar terhadap tutor, perlu diperhatikan aspek ‘manusiawi’ ketika pembelajar berkomunikasi langsung dengan tutor masih memegang peran penting dalam kesuksesan pembelajaran, ketiga adalah interkasi antara pembelajar dengan sesama pembelajar lainnya.

 

4. Memilih Teknologi yang Tepat

5 Taktik Jitu Bagi Praktisi SDM 07

Berbagai Learning Management System (LMS) yang tersebar luas menawarkan berbagai pilihan teknologi, untuk bisa memilihnya, pertimbangan interaksi diatas dapat menjadi salah satu rujukan. Misalnya ketika berbicara tentang interkasi yang terjalin antara Pembelajar dengan materi maka teknologi yang dapat digunakan adalah; Video embed, Animasi, Sound, Wiki dan Media hypertext.

 

Sementara yang ingin disasar adalah interaksi antara Pembelajar dengan Tutor maka teknologi yang dapat dijadikan alternatif adalah; Live conference, Personal Message, Forum dan atau, Broadcasting Video. Terakhir jika yang ingin dibangun adalah interaksi dengan sesama pembelajar amak teknologi yang dapat disasar adalah; Chat, Forum, Personal Message dan Wiki.

 

5. Menata Prosedur dan Survey

Setelah semuatahap di atas dilakukan, maka ada beberapa hal yang perlu dilakukan sebelum,benar-benar me-launching program e-learning terhadap peserta didik. Yakni

  1. Melakukan survei untuk mengetahui keinginan pembelajar terhadap konten yang akan kita tawarkan yakni berkaitan dengan desain antar-muka, kegunaan, akses dan analisis pengguna.
  2. Mendapatkan Saran dan masukan dari para ahli.
  3. Setelah mendapatkan masukan, lakukan revisi Tahap I.
  4. Setelah direvisi, kembalikan kepada para ahli untuk mendapatkan feedback kedua
  5. Analisis data hasil feedback yang kedua
  6. Revisi sistem e-learning final.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *