9 Langkah Jitu Praktisi SDM , Memasarkan Metode e-Learning Demi Menciptakan  Organisasi Yang Berdaya Saing

9 Langkah Jitu Praktisi SDM , Memasarkan Metode e-Learning Demi Menciptakan Organisasi Yang Berdaya Saing

Pada tahun 2000 Studi Forrester Grup  di 40 perusahaan besar menyebutkan bahwa 68% menolak untuk mengikuti pelatihan berbasis konsep e-learning.

Fakta seputar penerapan e-Learning dalam kurun waktu satu dasawarsa terakhir memang ada peningkatan, namun peningkatan tersebut rasanya belum sebanding jika kita melihat trend pertumbuhan bisnis dan juga besarnya jumlah pembelajar. Selain fakta di atas, riset lain juga menunjukkan bahwa 50-80% peserta program e-Learning yang tidak pernah menyelesaikan program mereka.

 

Sepertinya memang ada satu aspek yang mungkin tidak terlalu diperhatikan, yakni aspek pemasaran (marketing) dari program e-Learning itu sendiri. Hal ini dapat dipahami karena sebagian besar Anda Program e-Learning lebih mencurahkan perhatian mereka pada pembangunan bahan ajar, ketimbang memperhatikan aspek pemasaran.

 

Pepatah mengatakan, “se-enak apapun masakan sang koki jika tidak ada yang memberitahukannya kepada khalayak, maka makanan tersebut tidak akan ada yang pernah menikmatinya.”demikian pula halnya dengan Program e-Learning, sebaik apapun materi ajar, jika tidak diperkenalkan, maka tidak ada pembelajar yang mengetahui hal tersebut.

 

Melihat kenyataan ini, metode pemasaran yang dilakukan oleh SHIFT Learning, Anda e- Learning dari belahan Amerika Utara. Berikut jabarannya:

1. Tentukan Tujuan

9 Langkah Jitu Praktisi HR 02

Seringkali Anda tidak secara jelas dan tersurat menyampaikan tujuan utama mereka menggelar program e-Learning. Padahal tujuan yang jelas dapat menjadi semacam kompas, penunjuk arah bagi organisasi untuk bergerak dan terus mengembangkan bisnisnya. Untuk menyiasati hal ini ada empat parameter yang kembali harus terkandung dalam penentuan sebuah tujuan yakni:

  1. Specific (Jelas tidak bersifat global agar terhindar dari multi-tafsir),
  2. Measurable (Terukur dan memiliki standard yang dapat dipertanggungjawabkan),
  3. Attainable (Dapat dicapai),
  4. Relevant (Relevant) dan
  5. Time Based (Ada Panduan Waktu tertentu sehingga mempermudah penentuan target pencapaian).

2. Mengenal dengan Baik Karakteristik Karyawan

9 Langkah Jitu Praktisi HR 03

Pada tahap ini Anda harus dapat memahami kebutuhan dan masalah yang dihadapi oleh konsumen. jangan lupa juga untuk mengukur daya beli calon konsumen sehingga kita dapat dengan arif menentukan harga jual yang affordable (terjangkau). Aspek lain yang juga harus dikenali adalah perkiraan jumlah calon konsumen, dan hal-hal yang merupakan ciri khas dari mereka, semisal kebiasaan, preferensi, perilaku, aspek budaya dan adat-istiadat. Memahami karakteristik karyawan menjadi modal awal yang sangat berharga dalam menentukan langkah – langkah berikutnya. Setidaknya ada 3 hal yang perlu diperhatikan yaitu,

  • kemauan (berubah),
  • kemampuan (menguasai teknologi), dan
  • kesempatan (berbuat).

 

3. Membangun Branding (Merk)

Branding juga memegang peran yang tak kalah penting, dari brand lah manajemen pucak mencoba memahami kekuatan dan kelebihan konsep e-Learning yang diusung. Menyangkut branding setidaknya ada lima (5) hal yang perlu diperhatikan, yakni;

  • Branding (mendisain ikon brand itu sendiri),
  • Attention (Cari perhatian),
  • Interest (bangun ketertarikan calon pengguna),
  • Desire (memahami keinginan users) dan
  • Action (Program ktivasi dari brand itu sendiri, program yang langsung mehyapa calon pengguna, sehingga mereka ‘bersentuhan langsung’ dengan Anda)


4. Mengembangkan Sikap Empati terhadap Pengguna

Lebih dalam dari hanya sekedar mengumpulkan data yang bersifat angka, dalam tahap ini Anda mencoba mencari jalan yang paling tepat untuk dapat menjangkau calon pengguna, dengan menempatkan diri dalam posisi calon pengguna. Strategi top down secara masif tentu saja akan membuat pertentangan semakin keras antara manajemen puncak dan para pengguna e- Learning.

Pendekatan dengan cara merubah persepsi dan menonjolkan manfaat-manfaat yang dapat berdampak langsung pada kinerja karyawan diyakini akan jauh lebih efektif dan efisien. Identifikasi apa ketakutan mereka, masalah mereka, hambatan, dan apa kelemahan mereka. Menganalisis data ini dalam konteks proyek Anda dan ini akan membuat lebih mudah bagi users Anda untuk menemukan program yang menarik dan bermanfaat bagi para karyawan.


5. Bangun Ketertarikan

Tentukan dengan jelas dan singkat ‘Pesan’ apa yang ingin disampaikan kepada calon pengguna. Batasi strategi Anda dengan cara yang menyoroti hal-hal yang utama saja, lalu hubungkan dengan ke titik kelemahan yang Anda temukan dalam calon pengguna. Misalnya ada keengganan calon konsumen untuk membuka jaringan internet pada jam-jam tertentu, Anda harus dapat membaca peluang dari ketakutan tersebut, lalu menyampaikan pesan yang tepat, sehingga mengubah dari rasa takut menjadi rasa tertarik. Selain itu, Anda juga dapat membuat suatu program reward. Bagi para karyawan yang berprestasi dan mendapatkan nilai terbaik berhak mendapatkan suatu hadiah.


6. Memahami Keinginan Users

Buatlah materi promosi yang merupakan jawaban dari dapat harapan yang dituliskan oleh calon pengguna, dengan demikian calon pengguna melihat bahwa semua masalah mereka ternyata dapat diatasi.

Namun juga perlu diperhatikan bahwa dalam tahap ini upayakan untuk tidak sekedar memberikan janji semata, namun Anda harus benar-benar yakin dapat memenuhi semua harapan tersebut, karena sekali saja mereka dikecewakan, maka apa yang Anda telah susun dengan baik sebagai sebuah strategi bisnis akan menguap dengan sendirinya. Ingat: “Jika nilai e-learning gagal untuk menjawab pertanyaan users,” Apa untungnya bagi saya ?” maka mereka tidak akan memakainya” (E-Learning: You Build It — Now Promote It oleh Jay Cross).


7. Bangun Program Aktivasi Branding

Buatlah platform atau portal informasi yang dapat diakses dengan mudah untuk ditemukan. Semakin banyak orang tahu tentang proyek Anda dan manfaat yang diperoleh, semakin mereka akan tertarik. Kembali seperti cerita di awal tulisan, sebaik apapun program yang ditawarkan, jika calon pengguna tidak mengetahuinya, maka program akan teronggok percuma.

Selain mudah diakses ciptakan juga kenyamanan, misalnya calon pengguna tidak sedang memasuki labirin yang tidak berujung, namun ketika ia mencari mereka langsung dihadapkan pada jawaban. Misalnya, pastikan para pengguna mudah untuk mengakses materi yang diberikan.

8. Bangun Strategi Kampanye yang Efektif

9 Langkah Jitu Praktisi HR 04

Selain aspek efektivitas, juga harus memperhatikan aspek efisiensi. Karena ini merupakan program e-Learning, sebaiknya kampanye juga gencar dilakukan di dunia maya. Justru ini adalah kesempatan untuk memperlihatkan kompetensi yang dimiliki oleh Anda. Desain yang menarik dan kekinian, lebih menarik dari materi disain yang cenderung terkesan kuno dan konvensional.

Selain berkampanye di dunia maya seperti website resmi organisasi, email internal ataupun media social, marketing tools berupa media cetakan (printed materials), hingga penyelenggaraan pertemuan dengan mengundang perwakilan dari departemen pelatihan didampingi oleh konsultan e-Learning untuk pertemuan dengan karyawan.


9. Be Consistent !

9 Langkah Jitu Praktisi HR 05

Komunikasi yang dibangun dalam rangka memasarkan sejatinya harus berkesinambungan dan konsisten. Setidaknya diperlukan 9 bulan hingga maksimal satu tahun, untuk menjalankan program pemasaran secara utuh. Perlu diingat untuk terus menerus melakukan strategi pemasaran, walaupun program telah berjalan, dan katakanlah telah mendapat respon positif dari pasar.

Teruslah menggali kebutuhan pasar, sehingga program dapat terus diperbaharui, disesuaikan dengan tuntutan dan permintaan pasar. Tujuan dari proyek Anda adalah untuk mengambil hati pengguna Anda dari situasi saat ini atau posisi untuk satu masa depan. Satu-satunya cara untuk memimpin proses perubahan dengan benar adalah melalui komunikasi yang tepat dan strategi pemasaran.

Ke-sembilan langkah yang telah dikemukakan di atas hanya merupakan alat bantu dalam menyusun strategi pemasaran e-Learning dalam organisasi Anda. Menjadi semacam alat untuk mengingatkan para penyelenggara Program e-Learning untuk terus-menerus mendekatkan diri dengan para pengguna. Para pengguna adalah duta yang paling baik untuk menjaga branding.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *